Bersatulah Ummat Islam (1) Ukhuwwah Islamiyah ISLAM AGAMA SEBENAR DI SISI ALLAH
Bersatulah Ummat Islam (1)

Bersatulah Ummat Islam (1)

Posted in Articles, Dunia Islam, Fiqh Kebangkitan | Comments Off on Bersatulah Ummat Islam (1)

   “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh”

Analisa Sejarah Gerakan Islam di Indonesia

Dan Strategi Perjuangan Masa Depan.

Muqaddimah.

Bismillah al-Rahman al-Rahim, Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin wassolatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’ walmursalin wa’ala alihi waashabihi waman tabi’ahum ila yaum al-din. Ya Allah tunjukanlah kami kebenaran dengan jelas dan berikan kami kekuatan menjalankannya . Dan tunjukanlah kepada kami kesesatan dengan jelas dan berikanlah kepada kami kekuatan menjauhinya.

Arti kemenangan (kemerdekaan) hakiki.

Negara Sekular Tidak Lebih Baik

Negara Sekular Tidak Lebih Baik

Posted in Dunia Islam, Pemikiran Islam | Comments Off on Negara Sekular Tidak Lebih Baik

Islam-Wallpaper-islam-31324530-1024-768Seorang tokoh liberal, Abdullahi An-Naim, dalam sebuah forum di sini baru-baru ini mengatakan bahawa negara sekular lebih baik bagi masyarakat Islam, kerana apabila ia sekular ia menjadi neutral. Masyarakat berbilang agama dan kaum akan mendapat kebebasan untuk mengamalkan agama masing-masing. Malahan katanya, orang Islam akan lebih kuat beragama kerana ia beramal berdasarkan kepada keyakinan dan bukan paksaan.

MANHAJ NUBUWAH

MANHAJ NUBUWAH

Posted in Pemikiran Islam | Comments Off on MANHAJ NUBUWAH

kaabahMUQADDIMAH

 

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

 

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus utusan Nya (Nabi Muhammad SAW) dengan membawa petunjuk (Al Qur-an) dan din yang benar (Al Islam) untuk mengatasi segala din (pandangan hidup) walaupun orang-orang Musyrik membencinya. Aku bersaksi bahawasanya tiada sembahan selain Allah dan aku bersaksi bahawasanya Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada para sahabatnya, ahli keluarganya dan ummat yang mengikutinya sehingga hari pembalasan.

 

Allah berfirman : “Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas perbuatanmu. Dan hendaklah bertawakkal kepada Allah dan cukuplah Allah menjadi pemimpinmu” ( Al Ahzab 2-3). Juga Allah berfirman : “Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat teladan yang baik”.  (Al Ahzab 21). Firman Allah: “Katakanlah (Muhammad) Jika kamu sekalian mencintai Allah , maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu”.

 

Al Qur-an merupakan pedoman yang sempurna, bukan saja dari kandungannya tetapi juga dari tertib turunnya wahyu. Maha Bijaksana Allah telah mengutus Rasul-Nya yang ummi dengan mempermudah tugasnya untuk menerima, menyampaikan, mengajarkan, dan melaksanakan wahyu dengan menurunkannya secara bertahap, dengan tertib dan teratur Secara garis besar wahyu diturunkan didua tempat dan dua keadaan, yaitu di Mekkah dan Madinah.

 

Di Mekkah yang masih dipenuhi kemusyrikan dan kehidupan jahiliyah, ayat-ayat yang diturunkan berkenaan Aqidah Tauhid. Ayat-ayat  seperti Al Alaq, Al Mudatsir, An Nas, Al Falaq, Al Ikhlas, Al Lahab dan Al Kafirun bertujuan meletakan dasar kepercayaan kepada keesaan Allah yang sekaligus membongkar akar jangkar kemusyrikan jahiliyah. Urusan kepercayaan adalah urusan hati, perlu difahami dan dihayati oleh akal fikiran untuk seterusnya menjadi keyakinan hati. Untuk itu Dilaksanakan oleh Rasulullah SAW dengan methoda Tabligh dan Dakwah.

 

Adapun Madinah adalah tempat baru yang haus kepemimpinan Rasulullah setelah mereka yang menjadi penduduk utamanya menerima Islam dan bergabung dengan para muhajirin, maka . ayat yang diturunkan dititik-beratkan kepada hukum syari,at dilaksanakan dengan methoda ta’lim, Amar bilmakruf dan nahi ‘anil mungkar untuk memelihara dan membina kesejahteraan ummat dan  menyekat jenayah serta Jihad fisabilillah untuk meninggikan kalimatillah, sebagai manifestasi dari Al Islam ya’ lu wala yu’la alaih ( Islam itu tinggi dan tiada yang melebihi ketinggiannya).

        

  1. Membina diri di Gua Hira.

Naluri suci sebagai bakal nabi, membawa Nabi Muhammad untuk beribadah menyendiri di gua Hira mengikuti syari’at Nabi Ibrahim AS. Baginda merasakan sesuatu kejanggalan dalam masyarakatnya yang telah dipenuhi kemusyrikan dan kejahilan, sementara Baitullah masih tersergam sebagai lambang tauhid yang dibina oleh Nabi Ibrahim bersama anaknya Nabi Isma’il ams. Orang-orang Quaraisy dan masyarakat sekitarnya masih mempercayai Allah sebagai Maha Pencipta, mereka juga melakukan tawaf dan mengerjakan haji di Baitullah, namun cara beribadat dan sembahan mereka sudah menyimpang dari ajaran Tauhid yang ditinggalkan Nabi Ibrahim dengan anaknya Nabi Isma’il as, mereka menyembah berhala yang memenuhi Baitullah yang dianggap sebagai perantara kepada Allah.

Perangai merekapun sangat buruk, perbuatan seperti berjudi, minum arak, berzina, membunuh anak perempuan dan peperangan diantara puak karena balas dendam menjadi ciri kehidupan mereka. Allah berkehendak untuk meluruskan kembali pegangan hidup masyarakat Arab khususnya dan ummat manusia pada umumnya. Nabi Muhammad saw dari keturunan Quraisy yang mewarisi   penjagaan Kaabah menjadi pilihan Allah karena sikapnya yang jujur dan terpelihara dari kemusyrikan, nalurinya tidak dapat menerima keadaan masyarakatnya itu, bahkan menginginkan pemurnian kepercayaan dan amalan masyarakatnya.  Baginda memilih gua Hira untuk menghampirkan diri dengan Allah.

 

Gua Hira adalah tempat Nabi saw bermunajat dan beribadat kepada Allah mengikuti syari’at Nabi Ibrahim as, untuk mendapatkan petunjuk, disitulah Allah mengangkatnya sebagai Rasulullah dengan diturunkannya wahyu yang pertama, yaitu sura Al “Alaq” untuk seterusnya Allah menurunkan AlQur-an secara berperingkat dalam masa 23 tahun sesuai dengan peringkat perjuangan Rasulullah saw itu.

 

Sesuatu perubahan perlu dipelopori oleh orang yang mempunyai jati diri. Allah mengangkat para Rasul itu sebagai agen perubahan. Sejak Nabi Adam diturunkan kebumi Allah menyertakan petunjuk untuk kehidupan manusia dibumi. Tabi’at semulajadi manusia yang suka bergaduh dan mengikut nafsu telah dimanfa’atkan oleh syaetan untuk menjauhi petunjuk Allah. Oleh itu para Rasul diutus dikalangan orang-orang terpilih untuk membaharui kepercayaan dan  amalan berlandaskan panduan hidup daripada Allah tersebut.

 

  1. Dakwah rahasia di Rumah Al Arqam.

 

Seruan Rasulullah SAW pada mulanya dilakukan dengan sangat rahasia, mulai dari orang-orang terdekat, yaitu isterinya sendiri Sayidatina Khadijah,  kemudian sahabatnya Abu Bakar Bin Abu Quhafah, saudaranya Ali Bin Abu Tholib dan pembantunya Zaid Bin Haritsah. Abu Bakar banyak membantu dakwah Nabi dan berkorban harta seperti untuk memerdekakan Bilal Bin Rabah. Nabi mengumpulkan pengikutnya itu secara diam-diam dirumah Al Arqam. Ditempat itulah Nabi saw membina para sahabatnya dengan kekuatan tauhidullah dan kesetiaan kapada baginda sebagai Rasulullah sebagai tindak lanjut terhadap ikrar mereka mengucap Dua Kalimah Syahadah.

 

Pihak Quraisy mulai menyadari dakwah Nabi akan mengancam anutan kepercayaan mereka, pada mulanya mereka menghadapinya dengan berhati-hati, karena masih menjaga kerukunan kaumnya. Pada tahap itu mereka mencoba membujuk Abu Tholib untuk menghalang Nabi SAW dari meneruskan dakwah tauhidnya, dengan menawarkan kedudukan sebagai raja, atau menjadikan baginda menjadi manusia terkaya di mekah atau memilih wanita tercantik diseluruh Mekah. Nabi Muhammad SAW dengan tegas menolaknya dengan jawaban : “Sekiranya Matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan tugas Da’wah ini, aku tidak sekali-kali akan menghentikannya, sehingga aku selesaikan tugasku atau aku musnah kerananya”.

 

Pujukan  pertama tidak berhasil, pihak Quraisy mencoba dengan pujukan kedua yang ditujukan kepada Abu Tholib, untuk mengadakan pertukaran anak, mereka akan serahkan seorang pemuda tampan untuk menjadi anak angkat Abu Thalib, sedangkan Abu Thalib diminta menyerahkan Nabi Muhammad untuk dibunuh. Atas tawaran itu Abu Thalib sepontan saja menjawab, “Aku tidak bodoh untuk menyerahkan anakku untuk kamu bunuh dan kamu serahkan anakmu untuk aku pelihara”.

 

Tawaran ketiga adalah tawaran untuk berkompromi, yaitu mereka bersedia mengakui ajaran Tauhid yang dibawa Nabi Muhammad dalam masa setahun , akan tetapi pada tahun  berikutnya Nabi Muhammad menyembah berhala bersama mereka. Begitulah seterusnya bergantian. Tawaran ini mendapat jawaban segera daripada Allah dengan diturunkannya surah AlKafirun yang isi kandungannya memberi ketegasan bahawa tiada kompromi dalam urusan agama.

 

  1. Memberi peringatan terhadap Kaum Kerabat.

 

Allah SWT membimbing rasulnya untuk melangkah setapak lagi dengan firman Nya “Wa andzir ,asyirotakal aqrabiin”( Asy Syu,ara 214). Untuk pelaksanaan perintah itu Rasulullah mengumpulkan kaum kerabatnya dikaki bukit Shofa, dengan penuh hikmah beliau berkata “ Jika sekiranya aku mengatakan, bahwa disebalik bukit Shofa ini ada sepasukan musuh yang akan menyerang kita. Adakah kalian akan percaya ? “. Mereka menjawab serentak “ Tentu saja kami percaya wahai Al Amin”. Nabi Muhammad SAW melanjutkan ucapannya ” Selamatkanlah dirimu dari adzab neraka. sembahlah Allah dan jangan menyekutukannya. Sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah”.

 

Abu Lahab dengan spontan berteriak “ Celaka engkau Muhammad, untuk inikah engkau mengumpulkan kami ?”. Allah dengan segera menurunkan laknat kepada Abu Lahab, dengan diturunkannya surat Al Lahab”. Kewibawaan Abu Lahab dapat mempengaruhi kaum kerabat Nabi, sehingga hanya Ali Bin Abu Tholib saja yang baru berusia 7 tahun yang spontan .menjawab “ Ya Saya percaya”. Abu Lahab tidak menerima peringatan Rasulullah saw karena rasa bangga diri sebagai pemimpin Quraisy sedangkan Muhammad hanyalah seorang anak Yatim dan pernah bekerja sebagai penggembala kambing. Kesombongannya menyebabkan ia secara spontan menentang kebenaran peringatan Nabi saw tersebut.

 

  1. Dakwah terbuka di  Pasar Ukaz.

 

Rasulullah juga menerima pemboikotan di syiib Abu Tholib, yang ditulis didepan pintunya larangan kepada sesiapapun berhubungan dengan keluarga Rasulullah sehingga rusaknya tulisan itu. Allah mempercepatkan kerusakannya dengan mengutus anai-anai yang memakan pengumuman pemboikotan itu.

 

Allah SWT menyuruh Rasul Nya melangkah lebih berani dengan firman Nya “ Fasda’ bima tukmaru waa’rid anil musyrikin * Al Hijr 94). Rasulullah SAW memohon kepada Allah agar Islam dikuatkan dengan salah seorang diantara dua nama Umar. Umar Bin Khatab ataupun Umar Bin Hisyam.  

 

Dengan kemurahan Allah secara dramatik Umar Bin Khottob yang tengah memuncak kemarahannya dan dengan pedang terhunus berjalan  Sambil mengancam untuk membunuh Nabi Muhammad saw, tetapi diperjalanan ada seseorang yang menegurnya dan memberitahu bahwa adiknya sendiri telah masuk Islam. Beliau berbalik menuju rumah adiknya, apabila sampai dirumah adiknya, kedapatan adiknya sedang membaca Al Qur-an .

 

Adiknya dengan menggunakan ikatan persaudaraan dapat menenangkan emosi Umar dan diberi kesempatan membaca surah Toha yang sedang dibacanya. Setelah itu Umar datang menemui Rasulullah dalam keadaan pedang masih terhunus, yang mencemaskan para sahabat yang hadir. Namun Rasulullah saw membenarkan umar masuk, kemudian Umar mengucapkan dua kalimah syahadah dihadapan Rasulullah saw sendiri.

 

Dengan keberanian dan kegagahannya, Umar menyarankan agar Rasulullah saw tidak sembunyi-sembunyi lagi dalam menyebarkan ajaran agama, beliau bersedia mendampinginya. Dengan demikian Rasulullah saw dibawah pengawalan Umar Bin Khattab itulah turun ke pasar Ukaz memberikan ceramahnya disamping para penya’ir yang mempamerkan kemahiran bersya’irnya didepan khalayak ramai. Rasulullah saw juga membenarkan Umar ra untuk membawa para sahabat berpawai sekitar Mekah. Atas keberaniannya itu Rasulullah saw memberi gelaran Al Faruq kepada Umar.

 

  1. Rehlah Nabi dengan Isra dan Mikraj.

 

Pemimpin Quraisy makin keras dan ganas, sehingga Nabi sebagai manusia biasa merasa letih dan tertekan karena penghinaan dan penyiksaan dari pihak Quraisy terhadap dirinya dan para sahabatnya. Maka Allah SWT menurunkan Surat Ad Dhuha dan Al Insyirah, untuk menghibur dan memberi semangat baru. Disuruh Nya Nabi berbesar hati tidak terperangkap dengan halangan yang merupakan resiko perjuangan, tetapi lebih memerhatikan tanggungbjawab terhadap nasib ummat disekeliling serta memandang jauh kedepan dalam memikul amanah kerasulan.

 

Ditambah lagi ujian terhadap Nabi saw karena mengharungi ‘aamul huzni (tahun kesedihan)  disebabkan  Nabi saw ditinggalkan bapa saudaranya Abu Tholib yang selama ini melindunginya serta isterinya yang setia menjadi pendamping dan menyerahkan semua hartanya kepada Nabi saw, keduanya meninggal dunia dalam tahun yang sama merupakan satu lagi ujian Allah terhadap Rasul Nya untuk lebih bertawakkal kepada Allah.

 

Nabi SAW dinaikkan ke langit dalam peristiwa Isra-Mi’raj, dijemput oleh Allah untuk menyaksikan dengan mata kepalanya keperkasaan Allah. Perkara ghaib yang harus diimani oleh seluruh orang beriman, oleh Allah dibuka tabirnya untuk Nabi Muhammad saw, Rasulullah saw bertemu Allah, bertemu para Rasul, melihat surga dan neraka, melihat ganjaran dan siksaan. Dengan demikian menyatakan, “ Seandainya kamu melihat segala sesuatu yang aku lihat, tentulah kamu akan banyak menangis dari  tertawa.

 

Sesuatu yang istimewa sebagai buah tangan terhadap ummatnya adalah Rasulullah saw  menerima syari,at solat lima waktu, yang disebutkan oleh Rasulullah saw sebagai mikrajul mukminin. Solat adalah kewajiban seorang hamba menyembah Allah, solat adalah tiang agama, siapa yang mendirikannya, maka ia telah mendirikan agamanya; sesiapa meninggalkannya , maka ia telah meruntuhkan agamanya.

 

Solat berupa gerakan, bacaan, dan do’a, untuk berkomunikasi dengan Allah untuk mengingati Allah, oleh karena itu solat hendaklah dilihat sebagai kesempatan menghadap Allah. Oleh karenanya juga dirikanlah solat dengan memenuhi syarat rukunnya, terutama rukun tumaninah yang tujuannya untuk menumbuhkan khusyu’. Lakukanlah solat dengan tidak terburu-buru, sebaliknya nikmatilah setiap gerakan dan bacannya sebagi kedekatan dengan Allah, maka solat akan dapat membentuk pribadi yang menjauhi sikap keji dan mungkar.

 

  1. Berdakwah kepada jama’ah haji di Aqabah.

 

Penderitaan juga dialami oleh para sahabat Nabi saw terutama yang lemah seperti para hamba. Nabi memerintahkan berhijrah kepada para sahabatnya ke Habsyi untuk membuka dunia baru, karena Mekah sudah dirasakan sangat sempit ruang untuk berdakwah.

 

Nabi juga berusaha mencari lahan baru ke Thoif yang disambut dengan lemparan batu, luka-luka yang memenuhi badan Nabi menyebabkan Nabi terpaksa pulang ke Mekah dalam keadaan susah berjalan. Penderitaan yang begitu berat sebagai akibat penganiayaan orang Thaif hingga menimbulkan simpati malaikat, malaikat datang menawarkan kepada Nabi jika Nabi saw mau membuat pembalasan, malaikat sanggup mengangkat bukit Uhud untuk dicampakkan  kepada kaum Ta’if, namun Nabi saw adalah seorang yang sangat pema’af dan berpandangan jauh. Nabi tidak mau memusnahkan kaum Thaif sebaliknya berdo’a kepada Allah, dengan do’a, “ Ya Allah tunjukilah bangsa kami, sesungguhnya mereka tidak mengerti”. Begitulah besarnya jiwa dan tanggung jawab Nabi terhadap dakwah dan tidak menyerah kalah dan berputus asa dengan celaan dan penganiayaan orang.

 

Nabi SAW berusaha sambil memohon sekeras-kerasnya bantuan Allah untuk membuka lahan dakwah baru. Terbetik dalam pikiran Nabi, bahwa Syari’at Nabi Ibrahim AS yang masih ada walaupun telah dinodai kemusyrikan adalah ibadat haji dan umrah. Nabi SAW, Terutama pada musim haji berdatangan dari berbagai pelosok negeri orang-orang yang bertujuan mengerjakan ibadat haji.

 

Nabi SAW telah mengintip kedatangan tetamu-tetamu Allah itu sebelum mereka masuk ke Mekah. Mulai dengan membina 6 orang orang Yasrib berhasil didakwahi Nabi SAW dengan diikat Perjanjian (Bai’ah) Aqabah I, yang disusuli 60 orang dalam bai’at Aqabah ke II, menjadikan  semaian iman terhadap penduduk Yasrib yang digarapnya di Aqabah itu telah tumbuh subur dan bahkan dapat mempersatukan kaum Aos dengan Khajraj yang selama ini selalu terjadi peperangan .

 

Dan ketika nabi dikepung rumahnya untuk dibunuh, Allah mengizinkan Nabi SAW berhijrah ke Yasrib, yang kemudian namanya diganti menjadi Madinah.

 

  1. Berhijrah ke Madinah.

 

Tonggak penting dalam perjuangan Nabi saw adalah Hijrah. Mekah yang menjadi tempat kelahiran baginda dan tempat baginda diutus sebagai Rasulullah saw memang menjadi pusat pengembangan agama tauhid sejak zaman Nabi Ibrahim, akan tetapi setelah ribuan tahun meninggalnya Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ima’il alaihima salam keadaan jauh berubah. Penduduk Mekah telah menjadi penyembah berhala dan kehidupan diliputi kejahilan.

Nabi berjuang selama 13 tahun di Mekah kurang  mendapat sambutan, padahal Nabi lahir dari keluarga bangsawan Quraisy yang menjaga Baitullah. Pengikut Nabi di Mekah berkisar puluhan orang saja, sedangkan pengorbanan Nabi saw sangat luar biasa seperti dikisahkan diatas. Setelah nyawa Nabi sendiri terancam, maka Allah mengizinkan beliau untuk berhijrah.

 

Hijrah Nabi berperanan bukan sekadar menyelamatkan jiwa (kemerdekaan), tetapi merupakan titik balik perjuangan, dimana Nabi selama di Mekah ditindas, setelah hijrah beliau adalah pemimpin Madinah yang berdaulat. Nabi saw dapat menyusun masyarakat, melaksanakan syari’ah dan mempertahankan kedaulatan atas Madinah dan memperluas medan dakwah keluar jazirah Arab.  

 

 

 

  1. Nabi saw membangun daulah Madinah.

 

Perjuangan Nabi seterusnya di Madinah didahului dengan langkah pertama membangun Masjid sebagai pusat kegiatan berjamaah dan markas perjuangannya. Laungan azan yang berisi  6 kali takbir, ucapan dua kalam shahadah, seruan solat, seruan menuju kejayaan yang diulang masing-masing sebanyak 2kali dan diakhiri tahlil merupakan seruan yang lengkap yang mampu  menyentuh hati setiap orang beriman untuk memenuhi segala perintah Allah dan solat adalah merupakan kerasmian/ simbol keta’atan kepada Allah.

 

Berjama’ah solat sangat diambil berat sehingga dijanjikan 27 derajat pahala berbanding dengan solat berseorangan. Berjama’ah mestilah mengangkat seorang imam dan imam wajib diikuti, Apabila imam bertakbir hendaklah kamu bertakbir, apabila imam ruku hendaklah kamu ruku’dan janganlah kamu ruku’ sehingga imam ruku’……. Barisan hendaklah lurus dan rapat, karena yang demikian itu merupakan kesempurnaan solat. Demikianlah Rasulullah mengajarkan berjama’ah Oleh itu, berjama’ah solat sepatutnya melahirkan kebersamaan dalam hidup, menghasilkan disiplin dan ketaatan kepada pemimpin kerana menjalankan perintah Allah SWT.

 

 Selain menjadi tempat berjama’ah digalakan untuk beri’tikaf dimasjid, melakukan dzikir ,doa, membaca Al Qur-an dan melakukan solat sunat, yang  menunjukkan kecenderungan kita kepadanya sebagai tempat suci menghampirkan diri dengan Allah Yang Maha Kuasa Masjid juga sebagi tempat mengaji ilmu, terutama ilmu agama, masjid juga digunakan untuk bermusyawarat, sebagai pejabat, tempat perhimpunan dalam urusan ummat bahkan dijadikan tempat tahanan.Rasulullah saw bersabda, bahawasanya orang yang mendapat perlindungan di alam mahsyar nanti adalah diantaranya “Seseorang yang hatinya tergantung di masjid-masjid”.

.

Allah SWT menegaskan bahwa hubungan iman seseorang menjadikannya mereka bersaudara. Rasulullah menyifatkan seseorang muslim dengan muslim lainnya adalah ibarat satu jasad , yang apabila sakit akan merasakan sakit seluruh badannya dengan demam dan denyutannya. Rasulullah saw menyusun masyarakat Islam dengan mempersaudarakan Muhajirin dengan Anshor dalam  bentuk pasangan antara seorang muhajir dengan seorang Ansor, yang bertujuan untuk lebih mempererat hubungan sesama mereka  dan mempunyai tanggung jawab khusus antara keduanya.

Kaum ansor sanggup berkongsi rumah, berkongsi ladang dan bahkan menceraikan salah seorang isterinya untuk dikahwini saudaranya muhajir. Adapun para muhajir juga tidak berharap dengan kebajikan saudaranya, sabagaimana dilakukan Abdurrahman Bin Auf, beliau hanya minta ditunjukkan pasar, disebabkan beliau seorang peniaga. Abdurrahman berniaga bukan memperkaya diri, tetapi menyedikan logistik untuk keperluan perjuangan. Nyata sekali persaudaraan membuahkan persatuan, persatuan menghasilkan kekuatan. Bersatunya hati pasukan mulimin itulah yang menjadikannya seperti benteng yang kokoh sebagaimana disifatkan Alloh didalam Al qur-an.

 

Langkah ketiga menyusun perlembagaan Madinah dengan  mengikat perjanjian dengan penduduk Yahudi Madinah untuk mengakui kepemimpinan Nabi Muhammad saw dan bersama-sama  mempertahankan Madinah dari sebarang pencerobohan pihak luar. Tetapi kaum Yahudi mengkhianati perjanjian itu, oleh sebab itu mereka diperangi dan dihalau dari Madinah.

 

Wahyu yang diturunkan di Madinah mengisi susunan masyarakat  yang Rasulullah SAW susun.  Allah SWT mengiktirafnya dengan firmannya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dijalan Allah dan orang-orang Ansor yang menolong dan membantunya mereka itu sebahagian mereka memimpin sebahagian yang lainnya. Adapun orang-orang yang beriman tetapi tidak berhijrah, tiada kamu bertanggung jawab terhadap mereka sedikitpun sehingga mereka berhijrah. Dan jika mereka minta pertolongan dalam urusan agama bolehlah kamu tolong, kecuali diantara kamu dengan kaum itu terikat perjanjian.

 

Al Qur-an merangkumkan segala permasalahan yang dihadapi ummat Islam, dengan diturunkannya ayat-ayat atau surat-surat yang titik beratnya kepada hukum syari’ah, seperti mu’amalat, munakahat, dan jinayat didalam berbagai surat Madaniah, sehingga Allah menutupnya dengan ayat “Al yauma akmaltu lakum dinakum waatmamtu alaikum nikmatii waraditu lakum Islama diina”( Al Maidah 4).

 

  1. Strategi membina kekuatan dengan Persaudaraan dan kesatuan ummat.

Segala yang dilakukan Nabi saw ketika sampai di Madinah merupakan landasan yang kokoh dalam membina kedaulatan. Mendirikan masjid yang didirikan sebagai tempat berjama’ah   dan sebagai markas perjuangan, mempersaudarakan Ansar dengan Muhajirin adalah memupuk kerja sama diantara para pendukung Islam, Membuat Piagam Madinah sebagai konstitusi dan dalam rangka pembinaan wilayah.

Allah merekam kehidupan kaum muslimin Madinah di dalam Al Qur-an surah Al Anfal ayat 72-74, yaitu wujudnya muhajirin dan Anshor yang saling membantu dalam  wujudnya struktur kepemimpinan. Kehidupan berjama’ah Muhajirin bersama Ansar yang dipupuk oleh Nabi SAW adalah merupakan kehidupan mu’minin yang sebenarnya , Adapun orang-orang yang beriman tetapi enggan berhijrah (tidak bergabung dalam jama’ah), mereka tidak menjadi tanggung-jawab kepemimpinan Nabi saw lagi ( tidak dianggap ummat Nabi SAW lagi)

 

Kekuatan Islam pada zaman Nabi saw terbentuk setelah Nabi berjaya menyemai aqidah selama 13 tahun di Mekah dan diperkokoh di Madinah, kemudian diikat dengan persaudaraan iman dan persatuan dan disiplin berjama’ah, dipupuk dengan niat ikhlas kerana Allah dengan tujuan mendapat keredhaan Allah, maka tampillah tokoh-tokoh sejarah pemimpin ummah yang tak ada tandingannya, dengan dibuktikan penyebaran Islam keseluruh pelosok dunia hingga kehari ini.

 

  1. Pedoman Hukum Syari’ah dan Jihad.

Al Qur-an sebagai mu,jizat merupakan sebuah kitab yang unik, merangkumkan berbagai bidang keilmuan.  di Madinah turun Surat Al Baqarah yang banyak mengungkap peranan Al Kitab (Al Qur-an) sebagai pedoman bagi para muttaqin, dalam surat ini juga menyingkap sikap kaum  kafirin, munafiqin dan  kemusyrikan kaum Yahudi dan tindak-tanduknya. Surat Al Maidah  berkenaan dengan makanan dan halal haram, tentang hukum jinayat dan menjadikan wahyu sebagai sumber hukum. Surat An Nisa berhubungan dengan Munakahat dan Hukum keluarga serta ketegasan sikap (furqan). Surat Al Bara-ah merupakan pernyataan Garis Pemisah untuk mengenal siapa kawan dan siapa lawan dan konsekwensi untuk bersiap sedia menghadapi peperangan. Al Anfal berhubungan harta rampasan, perintah berhijrah dan berjihad serta hukum perang dan damai. As Shaf tentang pengerahan tenaga Dan Al Fath tentang janji kemenangan Islam, keperluan kemenangan sebagai pertolongan Allah untuk para pejuang dan hukuman terhadap musyrikin dan munafiqin

 

  1. Rangkuman Sistem Wahyu

Ungkapan sejarah masa lalu senantiasa dikaitkan dengan peranan para Rasul dalam mencorakkannya, adapun alam akhirat selalu dilukiskan sebagai konsekwensi sejarah kehidupan manusia. dan penekanan aqidah akan selalu menjadi sandaran semua kisah-kisah yang diceritakan Allah SWT. Inilah sekelumit contoh sistem wahyu diturunkan. Hampir keseluruhan ayat-ayat Al Qur-an mempunyai latar belakang turunnya ayat (Asbaabun nuzul) menjadi jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi Rasulullah dalam memimpin ummatnya. Jadi kesimpulannya bahwa sunnah perjuangan Nabi saw adalah aplikasi wahyu yang turun secara berperingkat itu. Firman Allah : “Yang diucapkannya (Nabi SAW) bukanlah dari hawa nafsunya, tetapi wahyu yang diturunkan kepadanya”( An Najm 3).

Hijrah

Hijrah

Posted in puisi | Comments Off on Hijrah

kaabahHijrah adalah perubahan
Dari masa lalu yang kelam
Ke masa depan yang terang
Demi kemenangan haqiqi
Dan kebahagiaan abadi

Hijrah Qalbumu
Ketika luaran dan dalaman bersatu
Kecintaanmu terhadap keimanan
Kebencianmu terhadap kekufuran
Tiada tempat di hatimu
Bagi dunia yang fana dan menipu
Seikhlas hatimu
Kau mencari ridho Rabbmu

Ukhuwwah Islamiyah

Ukhuwwah Islamiyah

‘Saudara’ adalah  hubungan nasab (keturunan), saudara kandung adalah bermaksud saudara  seibu sebapa. Persaudaraan atau ukhuwah adalah sifat yang ada pada hubungan keturunan  tersebut yang berbentuk perasaan saling menyayangi, saling membantu karena naluri dan perasaan tanggung jawab yang ikhlas. Allah membuat ketentuan bahwa orang-orang beriman itu adalah bersaudara dengan itu menyatakan bahwa hubungan aqidah mempunyai hubungan yang rapat seperti saudara nasab, dengan  tujuan timbul rasa persaudaraan, yaitu saling mencintai, saling membantu dan bekerjasama diantara orang-orang beriman didalam mematuhi perintah Allah.

PENDIDIKAN NABAWI

PENDIDIKAN NABAWI

Firman Allah SWT:

“Dia lah yang telah mengutuskan dalam kalangan orang-orang (Arab) yang Ummiyyin, seorang Rasul (Nabi Muhammad s.a.w) dari bangsa mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (yang membuktikan keesaan Allah dan kekuasaanNya), dan membersihkan mereka (dari iktiqad yang sesat), serta mengajarkan mereka Kitab Allah (Al-Quran) dan Hikmah (pengetahuan yang mendalam mengenai hukum-hukum syarak). Dan sesungguhnya mereka sebelum (kedatangan Nabi Muhammad) itu adalah dalam kesesatan yang nyata”.

KEAGUNGAN RISALAH NABI MUHAMMAD SAW

KEAGUNGAN RISALAH NABI MUHAMMAD SAW

Posted in Pemikiran Islam, Tamadun Islam | Comments Off on KEAGUNGAN RISALAH NABI MUHAMMAD SAW

Manusia memiliki sifat beragama yang semula jadi. Ketika manusia mengenal Tuhannya maka sebenarnya ia kembali kepada asal kejadiannya, kepada fitrahnya. Islam adalah agama yang mengekalkan fitrah suci yang Allah tetapkan dalam diri manusia. Islam juga adalah agama yang sesuai dengan fitrah kejadian manusia dan bukan yang melawan atau bertentangan dengan fitrah. Kerana sesuai dengan fitrah kejadiannya inilah maka dengan mengikuti agama sebenar manusia akan menemui kebahagiaan yang sejati. Sebaliknya dengan mengikuti agama dan cara hidup yang salah dan keliru maka jiwanya tidak akan merasa tenteram dan bahagia.

ISLAM AGAMA SEBENAR DI SISI ALLAH


 

 

Manusia telah diciptakan oleh Allah SWT dengan tujuan yang telah ditentukanNya, iaitu untuk menjadi hambaNya dan khalifahNya di muka bumi. Allah telah menciptakan Adam dari tanah liat, walaupun dari tanah namun ia telah menerima ruh daripada Allah SWT yang menjadikannya makhluk yang istimewa. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai sebaik-baik kejadian (ahsanu taqwim), secara fizikalnya ia lebih baik dari makhluk-makhluk yang lain. Lebih dari itu, ia juga memiliki aspek rohani dan intelek yang tidak dimiliki oleh ciptaan Allah yang lain. Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah SWT (walaqad karramna bani Adam), namun jika anugerah ini tidak digunakan dengan sebaiknya maka ia akan menjadi makhluk yang terburuk dan hina di muka bumi.

Oleh kerana itu Allah SWT telah menurunkan para nabi dan rasul untuk membimbing manusia agar tidak melupakan tujuan ia diciptakan dan peranannya di dunia. Allah telah menciptakan manusia dengan satu kelemahan iaitu sifat alpa. Para nabi dan rasul telah dipilih oleh Allah SWT dari kalangan yang terbaik yang dapat menjadi contoh dan tauladan bagi segenap umat manusia. Dari segi akhlaknya, keperibadiannya, kecerdasannya, kebijaksanaannya, nasabnya mereka amat disegani dan disanjung tinggi. Mereka dikurniakan ilmu dan kebenaran oleh Allah dan mendapat pendidikan daripadaNya. Allah SWT menurunkan wahyu kepada mereka bagi menerangkan hakikat ketuhanan, hari akhirat, hakikat manusia, hakikat kebenaran, keadilan, kebahagiaan dsb. Mesej penting yang ingin disampaikan adalah agar manusia tidak menyekutukan Allah SWT dan beribadah hanya kepadaNya.

Allah SWT berfirman dalam al-Anbiya’:25 (lihat juga al-Nahl 36):

 

“Dan Kami tidak mengutus sebelummu (wahai Muhammad) seseorang Rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahawa sesungguhnya tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku; oleh itu, beribadatlah kamu kepadaKu”.

Risalah para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah adalah sama. Semua nabi dan rasul menyerukan Tawhid. Kalimat al-Tawhid adalah La ilaha illa Allah dan ia tidak dapat dipisahkan dengan pasangannya Muhammadan Rasulu’Llah. Kerana pengakuan terhadap Allah sebagai Tuhan sebenar tidaklah benar dan hanya menjadi pengakuan yang palsu jika seseorang itu menolak apa yang Allah SWT perintahkan iaitu mengikuti pesuruhNya di akhir zaman ini iaitu Rasulullah Muhammad saw. Islam adalah agama satu-satunya yang diturunkan oleh Allah, yang disempurnakan pada hayat Baginda Rasulullah saw.

Rasulullah saw tidak membawa agama yang baru yang berbeza dengan agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul sebelumnya. Semua nabi dan rasul membawa agama yang sama, agama yang intinya adalah mentawhidkan Allah SWT. Yang membezakan mereka adalah shari’ah dan manhaj. Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT di dalam al-Qur’an:

 

“Dan Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab (Al-Quran) dengan membawa kebenaran, untuk mengesahkan benarnya Kitab-kitab Suci yang telah diturunkan sebelumnya dan untuk memelihara serta mengawasinya. Maka jalankanlah hukum di antara mereka (Ahli Kitab) itu dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah (kepadamu), dan janganlah engkau mengikut kehendak hawa nafsu mereka (dengan menyeleweng) dari apa yang telah datang kepadamu dari kebenaran. Bagi tiap-tiap umat yang ada di antara kamu, Kami jadikan (tetapkan) suatu Syariat dan jalan ugama (yang wajib diikuti oleh masing-masing). Dan kalau Allah menghendaki nescaya Ia menjadikan kamu satu umat (yang bersatu dalam ugama yang satu), tetapi Ia hendak menguji kamu (dalam menjalankan) apa yang telah disampaikan kepada kamu. Oleh itu berlumba-lumbalah kamu membuat kebaikan (beriman dan beramal soleh). Kepada Allah jualah tempat kembali kamu semuanya, maka Ia akan memberitahu kamu apa yang kamu berselisihan padanya”.

Terdapat sebahagian orang Islam yang keliru berpandangan bahawa, oleh kerana masing-masing nabi dan rasul diutus oleh Allah dengan shari’at yang berbeza kepada kaumnya, maka perbezaan antara Islam, Yahudi dan Nasrani adalah perbezaan luaran yang tidak penting kerana pada hakikatnya masing-masing mengakui dan beriman kepada Tuhan yang sama. Pandangan seperti ini adalah pandangan yang mengelirukan yang sengaja disebarkan agar umat Islam menerima faham Pluralisme Agama.

Terdapat hakikat yang dilupakan oleh mereka yang mendukung faham pluralisme agama iaitu penyelewengan yang berlaku dalam agama Yahudi dan Nasrani sehingga terkeluar daripada ajaran Tawhid yang disampaikan oleh Nabi Musa dan Nabi Isa alayhimassalam. Al-Qur’an banyak membongkar penyelewengan yang telah mereka lakukan dan  menempelak mereka dengan cukup keras.

Allah SWT berfirman dalam surah al-Tawbah: 30:

 

“Dan orang-orang Yahudi berkata: “Uzair ialah anak Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih ialah anak Allah”. Demikianlah perkataan mereka dengan mulut mereka sendiri, (iaitu) mereka menyamai perkataan orang-orang kafir dahulu; semoga Allah binasakan mereka. Bagaimanakah mereka boleh berpaling dari kebenaran?”

 

“Maka dengan sebab mereka mencabuli perjanjian setia mereka, Kami laknatkan mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu (tidak mahu menerima kebenaran). Mereka sentiasa mengubah Kalimah-kalimah (yang ada di dalam kitab Taurat dengan memutarnya) dari tempat-tempatnya (dan maksudnya) yang sebenar dan mereka melupakan (meninggalkan) sebahagian dari apa yang diperingatkan mereka dengannya.”(al-Ma’idah:13).

 

Dalam surah al-Ma’idah: 73 Allah berfirman:

 

 

“Demi sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Bahawasanya Allah ialah salah satu dari tiga tuhan”. Padahal tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Tuhan yang Maha Esa. Dan jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, sudah tentu orang-orang yang kafir dari antara mereka akan dikenakan azab seksa yang tidak terperi sakitnya.”

Di kalangan pendukung pluralisme agama ada yang berhujah dengan menggunakah ayat al-Qur’an  dalam surah Ali ‘Imran ayat 64:

 

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu Kalimah yang bersamaan antara kami dengan kamu, iaitu kita semua tidak menyembah melainkan Allah, dan kita tidak sekutukan denganNya sesuatu jua pun; dan jangan pula sebahagian dari kita mengambil akan sebahagian yang lain untuk dijadikan orang-orang yang dipuja dan didewa-dewakan selain dari Allah”. Kemudian jika mereka (Ahli Kitab itu) barpaling (enggan menerimanya) maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah kamu bahawa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam”.

Seruan untuk berdialog dalam Islam terhadap Ahl al-Kitab dalam surah Ali ‘Imran di atas adalah seruan agar mereka balik ke pangkal jalan. Supaya menerima Tawhid dan tidak menyekutukan Allah. Seruan dibuat agar mereka mahu mengakui mesej asal agama mereka sendiri sebelum diselewengkan oleh para rahib dan pendeta mereka. Rasulullah hanya mahu agar mereka mengikuti ajaran asal para nabi mereka. Jika mereka enggan menerima tawhid ini maka wujudlah garis pemisah yang membezakan agama yang benar di sisi Allah dengan agama yang salah.  Namun ayat seruan untuk berdialog tersebut ditafsirkan oleh para pendukung pluralisme agama sebagai satu platform persamaan yang wujud antara agama-agama samawi. Mereka cuba menolak wujudnya perbezaan asasi dari segi teologi dan aqidah antara Islam dan agama Yahudi dan Nasrani, bahkan dengan semua agama.

Imam Fakhr al-Din al-Razi dalam tafsirnya Mafatih al-Ghayb mengatakan bahawa golongan Ahl al-Kitab ini telah gagal menepati tiga tuntutan Tawhid yang disebutkan dalam ayat di atas iaitu: Pertama, tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah dan tidak menuhankan al-Masih, kedua, tidak mensyirikkan Allah dengan konsep tritini yang mereka ciptakan dan ketiga, tidak mentaati para rahib mereka dalam penghalalan dan pengharaman tanpa disyari’atkan oleh Allah. Justeru tindakan Ahl al-Kitab mempertahankan ketiga-tiga perkara tersebut dan berpaling dari Tawhid ini perlu diperhatikan dan dijadikan garis pemisah. Oleh itu, jelas bahwa tidak wujud persamaan antara Islam, Yahudi dan Nasrani dan mereka telah menolak seruan untuk mentawhidkan Allah yang sebenarnya telah diserukan oleh para nabi mereka sendiri.

Agama selain Islam tidak diterima oleh Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam Firman Allah SWT dalam surah Ali ‘Imran: 19 yang bermaksud: “Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam. Dan orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberikan Kitab itu tidak berselisih (mengenai ugama Islam dan enggan menerimanya) melainkan setelah sampai kepada mereka pengetahuan yang sah tentang kebenarannya; (perselisihan itu pula) semata-mata kerana hasad dengki yang ada dalam kalangan mereka. Dan (ingatlah), sesiapa yang kufur ingkar akan ayat-ayat keterangan Allah, maka sesungguhnya Allah Amat segera hitungan hisabNya”.

Kerana itu anggapan bahawa Allah menurunkan banyak agama dan semuanya sah di sisi Allah adalah tidak benar. Bahkan dalam surah Ibrahim: 18 disebutkan bahawa amal kebaikan yang dilakukan oleh mereka akan menjadi sia-sia di Akhirat.  Namun demikian, ketika Islam menegaskan kebenaran risalah Tawhid yang dibawa oleh nabi Muhammad saw, dan hakikat bahawa ia telah memansukhkan shari’at yang dibawa oleh para rasul yang lain, ini tidak bermakna umat Islam harus memusuhi dan membenci penganut Yahudi dan Nasrani. Seorang Muslim diajarkan untuk menerima dan menghormati penganut agama lain untuk hidup dengan harmoni bersama-sama dengan orang Islam. Dalam Islam tidak ada paksaan, Islam memberikan kebebasan kepada penganut agama lain untuk wujud dan hidup bersama-sama umat Islam sebagaimana tertera dalam piagam Madinah (sahifat al-madinah). Sejarah mencatat bahwa Islam adalah agama yang cukup toleran, tasamuh dan hormat berbanding agama-agama lainnya. Oleh itu konsep toleransi beragama telah wujud dan diamalkan sejak zaman Rasulullah lagi, dan ia adalah amalan yang patut terus dipertahankan agar keharmonian beragama dan perpaduan nasional terlaksana.

*Teks khutbah disampaikan oleh PM Dr Khalif Muammar pada 6 April 2012 di Masjid UTM Kampus Antarabangsa Kuala Lumpur.

PLURALISME DAN KESATUAN AGAMA : TANGGAPAN KRITIS

Pluralisme agama muncul di Barat pada abad ke-20 sebagai satu usaha menangani sikap tidak toleran masyarakat beragama (religious intolerance), baik sesama penganut Kristian -Katholik, Protestan, Mormon dll.- mahupun antara penganut Kristian dengan penganut Yahudi (antisemitism).

MENGENAL ALLAH DAN BERADAB DENGANNYA

Allah SWT berfirman dalam Surah al-Hashr ayat 22-24:
“Dia lah Allah, yang tidak ada Tuhan melainkan Dia; Yang Mengetahui perkara yang ghaib dan yang nyata; Dia lah Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.
Dia lah Allah, yang tidak ada Tuhan melainkan Dia; Yang Menguasai (sekalian alam); Yang Maha Suci; Yang Maha Selamat Sejahtera (dari segala kekurangan); Yang Maha Melimpahkan Keamanan; Yang Maha Pengawal serta Pengawas; Yang Maha Kuasa; Yang Maha Kuat (menundukkan segala-galanya); Yang Melengkapi segala KebesaranNya. Maha Suci Allah dari segala yang mereka sekutukan denganNya.
Dia lah Allah, Yang Menciptakan sekalian makhluk; Yang Mengadakan (dari tiada kepada ada); Yang Membentuk rupa (makhluk-makhlukNya menurut yang dikehendakiNya); bagiNyalah nama-nama yang sebaik-baiknya dan semulia-mulianya; bertasbih kepadaNya segala yang ada di langit dan di bumi; dan Dia lah Yang tiada bandingNya, lagi Maha Bijaksana.”
Sabda Rasulullah saw dalam sebuah Hadith:
إن لله تسعة وتسعين اسما، مائة إلا واحدا، من أحصاها دخل الجنة
“Sesungguhnya bagi Allah terdapat 99 nama, Seratus kecuali satu, sesiapa yang menghitungnya akan masuk Syurga.” (muttafaq ‘alayh)
Penting untuk kita perhatikan di sini bahawa Allah SWT sendiri yang telah menamakan diriNya dengan 99 nama,  ini kerana hanya Allah sahaja yang tahu nama-nama yang selayaknya bagi Allah. Setiap nama ini mengandungi makna yang mendalam yang dapat menyingkap rahasia kewujudan. Manusia juga tidak mampu mengenali Allah jika Allah sendiri tidak memperkenankannya untuk mengenaliNya. Hanya setelah Allah memperkenalkan nama-nama tersebut maka kita dapat mengenali Allah dan orang yang mengenali Allah dengan sesungguhnya akan sentiasa menjaga adabnya dengan Allah, menunaikan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya. Maka kita dapat melihat di sini bahawa mengenal Allah (ma’rifatuLlah) adalah kunci bagi seseorang itu memasuki Syurga.
Setiap manusia yang lahir di dunia ini akan tertanya-tanya tentang tujuan ia dilahirkan di dunia, dari mana ia datang dan kemana ia akan pergi. Manusia juga akan tertanya-tanya siapakah yang menciptakannya. Mungkinkah ia lahir dengan sendirinya tanpa dikehendaki dan dirancang oleh Tuhan. Semua persoalan besar tentang kehidupan ini tidak akan dapat terjawab jika bukan Tuhan sendiri yang memberitahukan manusia tentang hakikat-hakikat tersebut. Manusia juga akan hidup tanpa makna jika tidak mengenal siapa dirinya sebenarnya dan siapakah Tuhannya.
Adalah satu kurnia yang besar jika manusia mengetahui bahawa Tuhan yang menciptakannya adalah Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahawa Tuhan yang menciptakannya adalah juga yang menciptakan segala yang wujud di muka bumi ini dan di alam-alam lain. Segalanya diciptakan oleh Allah kerana kasihNya kepada makhlukNya. Kerana itu antara nama Allah yang paling penting dan sering kita serukan adalah al-Rahman dan al-Rahim yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Manusia perlu mengenal dan mengakui hakikat sebenar Allah barulah ia dapat meletakkan dirinya di tempat sebenar sebagai hamba Allah SWT.
Surah al-Fatihah adalah surah yang mencerminkan hakikat sebenar hubungan manusia dengan Allah. Dalam surah ini kita mengakui dan memuji Allah sebagai Tuhan sekalian alam (Alhamdulillahi rabbil alamin). Tuhan yang telah menciptakan segala makhluk, memberinya kehidupan, mengatur segala sesuatu agar beroperasi tertib dan harmoni, memberi rezki kepada setiap yang bernyawa, menumbuhkan tanam-tanaman, mencantikkan dan mengindahkannya dengan pelbagai rupa dan bentuk yang menakjubkan, mewarnakan dengan pelbagai warna yang cantik. Segala ciptaanNya memukau dan mempesonakan, memberi inspirasi kepada manusia untuk berkarya dan mendapat ilham. Kerana menyedari kehebatan, keagungan dan kasih sayang Allah lah maka kita sebagai manusia yang menyedari dan merasa terhutang atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita, nikmat-nikmat yang tidak terkira banyaknya dan tidak terkira nilainya. Oleh yang demikian wajarlah kita memberi pujian kepadaNya. Segala puji hanya ditujukan kepadaNya kerana segala pemberian sesungguhnya berasal hanya dariNya.
Allah tidak meminta manusia untuk membalas segala pemberianNya, Allah hanya mahu kita memujiNya dan mengakuiNya sebagai Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Perkara mudah seperti ini pun seringkali kita lupa dan alpa untuk melakukannya. Manusia sering lupa bahawa di sebalik setiap keindahan dunia yang ada dihadapannya adalah anugerah daripada Allah. Bahawa ia tidak mungkin dapat terlepas sedetik pun dari nikmat yang diberikan oleh Allah. Oleh kerana itu manusia perlu sentiasa ingat akan ketergantungannya terhadap rahmat Allah. Ia perlu sedar bahawa tidak mensyukuri nikmat Allah dan ingkar akan perintahNya adalah satu kesalahan yang besar. Ia dianggap satu dosa yang akan mendatangkan kemurkaan Allah. Dan manusia yang dimurkai Allah balasannya adalah api neraka di akhirat kelak.
Surah al-Fatihah juga mengajarkan kita bagaimana beradab kepada Allah. Manusia yang sedar siapa dirinya akan menjaga adabnya kepada sesiapa pun di dunia ini. Ia tentu akan sangat menjaga adabnya kepada Tuhan yang telah memberikannya nikmat yang tidak terhitung nilainya. Menurut al-Zarkashi antara adab kita dalam surah al-Fatihah adalah kita mengucapkan segala puji bagi Allah bukan segala puji bagimu. Hanya ketika mengucapkan iyyaka na’budu kita menggunakan kata ganti Engkau kerana ia adalah penegasan dan janji kita untuk tidak sesekali menyekutukanNya. Sebagai tanda/ simbol kesedaran hakikat kekerdilan diri inilah maka sewajarnya kita meletakkan dahi kita di atas tanah di hadapan Allah SWT.
Sujud dilakukan oleh seseorang yang beriman bukan sekali sekala, tetapi setiap masa. Untuk beradab kepada Allah manusia perlu sentiasa memuji dan bersyukur kepadaNya. Agar tidak tergolong daripada orang-orang yang lalai. Demikianlah sifat orang yang beriman seperti tertera dalam al-Qur’an Surah al-A’raf: 205:

“Dan sebutlah serta ingatlah akan Tuhanmu dalam hatimu, dengan merendah diri serta dengan perasaan takut (melanggar perintahnya), dan dengan tidak pula menyaringkan suara, pada waktu pagi dan petang dan janganlah engkau menjadi dari orang-orang yang lalai”.
Oleh kerana itulah kita difardukan mendirikan solat lima waktu sehari semalam. Solat adalah sarana untuk manusia berkomunikasi dengan Allah. Dengan komunikasi yang kerap dan bermakna yang dilakukan manusia ia akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan hidup. Dalam solat ini juga kita menegaskan komitmen kita untuk menghambakan diri kepada Allah sepanjang hidup kita. Kerana kita sedar bahawa kehidupan kita hanya akan bermakna jika kita kekal sebagai hamba Allah yang sentiasa mendapat rahmat dan ampunannya. Dalam solat ini juga kita memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk, supaya tidak tergelincir, terpesong dari jalan yang benar. Petunjuk atau hidayah itu sangat kita perlukan kerana akal manusia sahaja tidak mampu mengenal jalan yang lurus yang dapat menyelamatkan kehidupan di dunia dan di akhirat. Petunjuk itulah yang telah membimbing para nabi, awliya, shuhada’ dan al-salihin orang-orang yang soleh.
Seorang Muslim yang mengenal Allah, akan sedar bahawa tiada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan dan ilmu Allah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Yunus: 61:

“Dan tidaklah engkau (wahai Muhammad) dalam menjalankan sesuatu urusan, dan tidaklah engkau dalam membaca sesuatu surah atau sesuatu ayat dari Al-Quran dan tidaklah kamu (wahai umat manusia) dalam mengerjakan sesuatu amal usaha, melainkan adalah Kami menjadi saksi terhadap kamu, ketika kamu mengerjakannya. Dan tidak akan hilang lenyap dari pengetahuan Tuhanmu sesuatu dari sehalus-halus atau seringan-ringan yang ada di bumi atau di langit, dan tidak ada yang lebih kecil dari itu dan tidak ada yang lebih besar, melainkan semuanya tertulis di dalam Kitab yang terang nyata.Segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia diketahui oleh Allah, bahkan bisikan hati sekalipun. Kerana itu seorang Muslim tidak akan dengan sengaja melakukan maksiat, dan jika ia tergelincir sekalipun ia akan cepat-cepat bertaubat kerana ia takut akan kemurkaan Allah”.
Antara adab dengan Allah adalah berbaik sangka terhadapNya. Apabila seseorang itu ditimpa musibah, tidak sewajarnya ia menyalahkan Allah apalagi membenciNya atas datangnya musibah tersebut. Justeru seorang Muslim akan sedar bahawa segala musibah yang menimpanya adalah ujian agar ia bersabar dan kerana kesabarannya itu ia berharap agar dapat tergolong dengan orang-orang yang dikasihi olehNya.
Untuk lebih menghayati nama dan sifat Allah, Imam al-Ghazali dalam bukunya al-Maqsad al-Asna fi Sharh Asma’ Allah al-Husna, memberi keterangan bahawa manusia perlu menghayati dengan memperhatikan dan  meniru kebesaran sifat-sifat Allah dengan semampunya dan menurut kesesuaiannya sebagai makhluk. Berakhlak dengan akhlak Allah seperti pemurah, penyayang, penyabar, melakukan yang terbaik, berilmu dan lain sebagainya.
Al-Qur’an menegaskan bahawa segala sesuatu di dunia bertasbih dan bertahmid kepadaNya. Mengagungkan dan memuji kebesaranNya. Apabila kita memperhatikan segala ciptaan Allah kita akan dapat melihat bahawa nama-nama Allah SWT itu terzahir dan dalam setiap ciptaanNya. Menyedari hal ini maka kita juga perlu sentiasa bertasbih dan bertahmid kepadaNya, benar-benar menghambakan diri kepadaNya. Semoga dengan itu kita akan tergolong dalam orang-orang yang mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.
Dalam sebuah hadith Rasulullah saw bersabda:
” لَوْ عَرَفْتُمُ اللَّهَ حَقَّ مَعْرِفَتِهِ لَعَلِمْتُمُ الْعِلْمَ الَّذِي لَيْسَ مَعَهُ بِهِ جَهْلٌ ، وَلَوْ عَرَفْتُمُ اللَّهَ حَقَّ مَعْرِفَتِهِ لَزَالَتِ الْجِبَالُ بِدُعَائِكُمْ , وَمَا أُوتِي أَحَدٌ مِنَ الْيَقِينِ شَيْئًا إِلا مَا لَمْ يُؤْتَ مِنْهُ أَكْثَرَ مِمَّا أُوتِي ”
“Jika kamu mengenal Allah dengan pengenalan yang sebenar maka kamu akan mendapat ilmu yang tiada bersamanya kejahilan, dan jika kamu mengenal Allah dengan pengenalan yang sebenar akan berubah gunung dengan do’a do’a kamu, dan tiada seseorang yang diberikan keyakinan kecuali apa yang tidak diberikan kepadanya adalah lebih banyak dari apa yang telah diberikan”.
Atas dasar menjaga adab kita dengan Allah jugalah kita tidak sewajarnya menganggap dan menyebut Tuhan-Tuhan lain sebagai Allah, atau membenarkan orang bukan Islam di Negara ini menggunakan nama Allah bagi merujuk Tuhan dalam agama mereka. Nama Allah adalah nama yang paling istimewa dan paling agung. Ia adalah nama khas yang hanya merujuk kepada Tuhan sebenar umat manusia. Masyarakat Melayu yang telah menggunakan nama Allah sekian lama dengan makna yang betul sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Perkataan ini telah diislamisasikan sehingga tidak mengandungi maksud yang tidak dikehendaki oleh Islam.
Marilah kita menghayati nama-nama Allah agar kita tergolong dalam orang-orang yang bersyukur dan mengenal Allah dengan sesungguhnya serta beradab dengan adab yang sepatutnya. Mengenal Allah bukan perkara yang susah dan bukan juga perkara yang mudah. Ramai di kalangan kita mungkin sedar siapa Allah sebenarnya, namun kita sering lupa dan alpa dari mengingatiNya. Orang yang sering lupa dari mengingati Allah bukanlah orang yang benar-benar mengenal Allah. Kerana itu kita digalakkan sentiasa berzikir untuk mengingatiNya, solat juga merupakan satu zikir agar kita ingat Allah dalam kesibukan harian kita. Dalam berzikir kita menyebut nama-nama Allah.
*Teks Khutbah disampaikan oleh PM Dr Khalif Muammar pada 30 Disember 2011 di UTM Kampus Antarabangsa, Kuala Lumpur.